JADIKAN AGAMA SEBAGAI AGEMAN (BUSANA), JANGAN JADIKAN AGAMA SEBAGAI GAMAN (SENJATA)

Agama adalah anugerah agung dari Tuhan untuk manusia. Tuhan yang menciptakan manusia, karenanya Tuhan Yang Maha Tahu; mana yang baik dan mana yang buruk untuk makhluk ciptaan-Nya ini. Dengan demikian, agama bukan untuk Tuhan. Tuhan tidak butuh agama. Tuhan semugih dari segala sesuatu, termasuk dari agama. Sekali lagi, agama adalah rahmat Tuhan untuk manusia.

Dari ini, jelas bahwa Allah Yang Maha kuasa adalah Tuhan yang sangat sayang kepada makhluk-Nya yang bernama manusia. Dia menurunkan agama -sekali lagi- hanya dan hanya untuk kebikan dan kebahagiaan manusia. Dengan ini, manusia beragama mestinya hidupnya menjadi teratur dan mentertibkan; hidupnya menjadi damai dan menenteramkan; dan hidupnya menjadi berkualitas dan membaikkan. Ini lah yang dimaksud dengan menjadikan agama sebagai ageman (busana ber-perilaku dan ber-hidup di jalan Tuhan).

Akan tetapi sekarang ini, ada kecenderungan dari kita yang menjadikan agama sebagai gaman (senjata). Agama tidk lagi menjadi pedoman perilaku yang mendamaikan, melainkan agama menjadi mimbar untuk menebar permusuhan. Agama tidak lagi menjadi pedoman moralitas untuk bergaul rukun dengan sesama, tetapi agama menjadi kendaraan untuk ujaran kebencian dan memecah belah sesama. Agama tidak lagi menjadi spirit membaikkan yang kurang baik, tetapi agama terkadang menjadi ajang penjelekkan yang sudah baik. Agama tidak lagi menebarkan kasih sayang, tetapi agama menjadi alat menyuarakan genderang peperangan. Agama tidak lagi melindungi dan menyelamatkan, tetapi menjadi senjata untuk melukai dan mematikan.

Kembali kepada point di atas, Tuhan sudah sedemikian sayangnya kepada manusia dengan memberinya agama, tetapi justru kita sendiri -yang entah karena apa- malah menjadikan anugerah agung tersebut bukan sebagai jalan menuju Tuhan, tetapi sebagai jalan penghalalan untuk berbuat kekerasan atas nama Tuhan. Sekali lagi, yuk jadikan agama sebagai ageman, jangan jadikan agama sebagai gaman!
Wallahu A’lam Bish Shawwab!

 

Penulis : Dr. Munawwir , Kaprodi Magister IAT UIN Saizu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *